Rabu, 25 Desember 2019

3 Iron



Subtitle: Indonesia
Sinopsis: Melihat sekilas poster filmnya, saya beranggapan kalau 3 Iron adalah film sedih nan mengharukan yang bercerita tentang cinta segitiga. Alih-alih bikin nangis, setelah menontonnya, saya justru dibikin bertanya-tanya.

Film yang diproduksi pada 2014 ini disutradarai oleh Kim Ki-Duk. Pemeran utamanya adalah Lee Seung Yeon, Jae Hee dan Kwon Hyeok Ho. Wawuh? Henteeeuuu, maca ngarana ge lieur!!!

Film ini bercerita tentang seorang lelaki (Jae Hee) yang tak memiliki tempat tinggal tetap. Baginya, hidup adalah berpindah dari satu rumah (orang) ke rumah (orang) lainnya. Namun, jangan salah, meski tak punya tempat tinggal, si lelaki ini memiliki motor gede mirip N-Max tapi mereknya BMW.

Setiap rumah yang ia tempati adalah rumah tak berpenghuni yang ditinggal untuk beberapa saat oleh si pemiliknya. Si lelaki memastikan tempat tinggal yang hendak ia tempati dengan cara yang cukup unik. Layaknya sales KPR (bukan Kelompok Penerbang Roket, yah), ia menggantungkan flyer di tiap gagang pintu rumah atau apartemen incarannya untuk kemudian datang kembali beberapa hari setelahnya. Bila flyer tersebut tak tersentuh, maka bisa dipastikan bahwa rumah incarannya itu tak berpenghuni. Kalau sudah begitu, dengan percaya diri ia akan memasuki rumah tersebut.

Anehnya, ia tak mencuri barang-barang berharga. Justru dengan santainya ia seolah berperilaku layaknya si empunya rumah. Pagi sarapan, lalu siangnya mengumpulkan dan mencuci pakaian kotor. Anehnya lagi, ia juga kerap membetulkan peralatan rumah yang rusak. Entah apa maksud dan pesan si pembuat film, setiap datang ke rumah baru, si lelaki itu selalu saja mendapati sekaligus membetulkan barang-barang yang rusak: Jam dinding, timbangan, radio.

3 Iron adalah film yang sangat minim dialog. Dari awal penceritaan tadi, si lelaki tak mengeluarkan sepatah kata pun. Saya dipaksa mencerna sendiri apa maksud dari setiap gerak si lelaki. Sialan emang si Kim Ki-Duk ini, udah mah nyuruh nonton, nyuruh mikir pula.

Setelah ke sana kemari, tibalah saat di mana si lelaki mendatangi satu rumah yang ternyata berpenghuni, padahal flyer yang ia simpan di gagang pintu masih tetap ada. Di sinilah cerita dimulai.

Ternyata perempuan yang diperankan oleh si Lee Seung-Yeon ini merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga. Saat pertama kamera menyorot si perempuan, wajahnya lebam enggak karuan. Dalam pertemuannya dengan orang baru (si lelaki itu), tak ada ribut-ribut layaknya orang “normal” yang mendapati orang asing di rumahnya sendiri. Si perempuan ini malah membiarkan sambil sesekali memerhatikan apa-apa yang dilakukan oleh si lelaki.

Di sini saya sempat mikir, sebegini depresinya-kah gambaran korban KDRT sampai-sampai orang lain yang masuk rumahnya saja dibiarin bebas?

Selanjutnya jangan tanya apa yang mereka perbincangkan. Tak ada sepatah kata pun dari mereka. Inilah yang membikin saya bertanya-tanya. Namun, anehnya, meski tanpa ada dialog di antara si lelaki dan si perempuan, mereka ngasih interaksi dengan cara lain yang bikin si penonton, “ohh ginii, ohh gituu”.

Senja datang, papah pulang, eh. Tibalah sore di mana si suami perempuan tersebut pulang dan mendapati orang tak dikenalnya sedang memukul-mukul bola golf di halaman rumah. Berbeda dengan si perempuan, si suami ini langsung ribut dan mengusir si lelaki. Pertengkaran pun terjadi, sampai akhirnya si suami kalah karena dihajar oleh bola golf.

Entah kenapa, si perempuan ikut merasa senang sekaligus menang dan akhirnya pergi dengan si lelaki tadi. Suaminya tentu saja hanya bisa diam menahan sakit. Kelak sakitnya ini menjadi dendam.

Si lelaki masih tetap berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Bedanya, kali ini ia ditemani oleh “teman barunya”. Bak sepasang suami istri, mereka hidup di rumah atau apartemen orang lain layaknya suami istri: masak, sarapan, mencuci baju, nonton, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, si perempuan kembali ke pangkuan suami karena diketahui oleh polisi bahwa si perempuan itu termasuk ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Tapi tunggu dulu, kembalinya si perempuan ke pangkuan suaminya tak sesederhana yang dibayangkan. Ada beberapa adegan yang akan bikin kamu bertanya-tanya dan penasaran.

Sila tonton, abis nonton kita bahas dan diskusiin. Saya penasaran sih ini film maksudnya gimana, oiya, saya juga penasaran sama soundtrack filmnya yang bernuansa Arab.











You May Also Like

loading...

Next

Related


EmoticonEmoticon